DISTRIBUSI SAMPLING

1. Pendahuluan

Bidang Inferensia Statistik membahas generalisasi/penarikan kesimpulan dan prediksi/ peramalan. Generalisasi dan prediksi tersebut melibatkan sampel/contoh, sangat jarang menyangkut populasi.
- Sensus = pendataan setiap anggota populasi
- Sampling = pendataan sebagian anggota populasi = penarikan contoh = pengambilan sampel
- Pekerjaan yang melibatkan populasi tidak digunakan, karena:
1. mahal dari segi biaya dan waktu yang panjang
2. populasi akan menjadi rusak atau habis jika disensus
misal : dari populasi donat ingin diketahui rasanya, jika semua
donat dimakan, dan donat tidak tersisa, tidak ada yang dijual?
Sampel yang baik diperoleh dengan memperhatikan hal-hal berikut :
1. keacakannya (randomness)
2. ukuran
3. teknik penarikan sampel (sampling) yang sesuai dengan kondisi atau sifat populasi

Sampel Acak = Contoh Random dipilih dari populasi di mana setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama terpilih menjadi anggota ruang sampel.

• Beberapa Teknik Penarikan Sampel :
a. Penarikan Sampel Acak Sederhana (Simple Randomized Sampling)
Pengacakan dapat dilakukan dengan : undian, tabel bilangan acak, program komputer.
b. Penarikan Sampel Sistematik (Systematic Sampling)
Tetapkan interval lalu pilih secara acak anggota pertama sampel
Contoh : Ditetapkan interval = 20
Secara acak terpilih : Anggota populasi ke-7 sebagai anggota ke-1 dalam sampel maka :
Anggota populasi ke-27 menjadi anggota ke-2 dalam sampel
Anggota populasi ke-47 menjadi anggota ke-3 dalam sampel, dst.
c. Penarikan Sampel Acak Berlapis (Stratified Random Sampling)
Populasi terdiri dari beberapa kelas/kelompok. Dari setiap kelas diambil sampel secara acak.
Perhatikan !!!!
Antar Kelas bersifat (cenderung) berbeda nyata (heterogen). Anggota dalam suatu kelas akan (cenderung) sama (homogen).
Contoh :
Dari 1500 penumpang KA (setiap kelas memiliki ukuran yang sama) akan diambil 150 orang sebagai sampel, dilakukan pendataan tentang tingkat kepuasan, maka sampel acak dapat diambil dari :
Kelas Eksekutif : 50 orang
Kelas Bisnis : 50 orang
Kelas Ekonomi : 50 orang

d. Penarikan Sampel Gerombol/Kelompok (Cluster Sampling)
Populasi juga terdiri dari beberapa kelas/kelompok
Sampel yang diambil berupa kelompok bukan individu anggota
Perhatikan !!!!
Antar Kelas bersifat (cenderung) sama (homogen). Anggota dalam suatu kelas akan (cenderung) berbeda (heterogen).

Contoh :
Terdapat 40 kelas untuk tingkat II Jurusan Ekonomi-GD, setiap kelas terdiri dari 100 orang. Populasi mahasiswa kelas 2, Ekonomi-UGD = 40 - 100 = 4000.
Jika suatu penelitian dilakukan pada populasi tersebut dan sampel yang diperlukan = 600 orang, dilakukan pendataan mengenai lama waktu belajar per hari maka sampel dapat diambil dari 6 kelas.... Dari 40 kelas, ambil secara acak 6 kelas.

e. Penarikan Sampel Area (Area Sampling)
Prinsipnya sama dengan Cluster Sampling.
Pengelompokan ditentukan oleh letak geografis atau administratif.
Contoh : Pengambilan sampel di daerah JAWA BARAT, dapat dilakukan dengan memilih secara acak KOTAMADYA tempat pengambilan sampel, misalnya terpilih, Kodya Bogor, Sukabumi dan Bandung,

Sampel acak menjadi dasar penarikan sampel lain. Selanjutnya, pembahasan akan menyangkut Penarikan Sampel Acak.

• Penarikan Sampel Acak dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
a. Penarikan sampel tanpa pemulihan/tanpa pengembalian : setelah didata, anggota sampel tidak dikembalikan ke dalam ruang sampel
b. Penarikan sampel dengan pemulihan : bila setelah didata, anggota sampel dikembalikan ke dalam ruang sampel.

• Berdasarkan Ukurannya, maka sampel dibedakan menjadi :
a. Sampel Besar jika ukuran sampel (n) > 30
b. Sampel Kecil jika ukuran sampel (n) < 30


Distribusi Penarikan Sampel = Distribusi Sampling
• Jumlah Sampel Acak yang dapat ditarik dari suatu populasi adalah sangat banyak.
• Nilai setiap Statistik Sampel akan bervariasi/beragam antar sampel.
• Suatu statistik dapat dianggap sebagai peubah acak yang besarnya sangat tergantung dari sampel yang kita ambil.
• Karena statistik sampel adalah peubah acak maka ia mempunyai distribusi yang kita sebut sebagai : Distribusi peluang statistik sampel = Distribusi Sampling = Distribusi Penarikan Sampel

Video

Haji

Perjalanan Ibadah Haji 19 Nopember - 29 Desember 2009

POTENSI CURAH HUJAN HARIAN TERHADAP BANJIR DI TANJUNG PRIOK DAN SEKITARNYA


POTENSI CURAH HUJAN HARIAN TERHADAP BANJIR DI TANJUNG PRIOK DAN SEKITARNYA
Oleh : Drs. Udin Nasikhudin, MM

PENDAHULUAN
Bencana Alam seperti peristiwa banjir dan longsor selalu dihubungkan dengan curah hujan yang tinggi. Sebenarnya banjir dan longsor itu terjadi tidak hanya karena faktor curah hujan yang tinggi melainkan masih banyak faktor lainnya seperti faktor daya lingkungan. Sedangkan yang menyebabkan hujan sangat lebat salah satu faktornya adalah akibat intensitas monsoon yang kuat
Indonesia mempunyai 2 musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau, biasanya datangnya musim hujan dihubungkan dengan akitivitas angin barat atau istilah ilmiahnya adalah Monsoon.
Di Indonesia dikenal dengan 2 macam monsoon, yaitu Monsoon Asia dan Monsoon Australia. Monsoon Asia berhubungan dengan musim hujan sedangkan Monsoon Australia berhubungan dengan musim kemarau.

Untuk mengetahui apa itu monsoon, perlu terlebih dahulu memahami konsep terjadi angin.
Angin adalah udara yang bergerak, angin barat adalah angin dari arah barat, sedangkan angin timur adalah angin dari arah timur. Tidak selamanya angin barat ini selalu mendatangkan hujan lebat berhari-hari. Meski tidak sepopuler badai tapi sebagian petani sudah mengenali angin barat ini, karena berkaitan pola tanam padi.

Angin Monsoon
Monsoon berkaitan dengan musim. Monsoon Dingin Asia berhubungan dengan angin baratan, yaitu angin yang berasal dari daratan Asia menuju wilayah Indonesia. Monsoon Dingin Asia membawa uap air lebih banyak dari biasanya, sehingga sebagian wilayah Indonesia bagian selatan sering banyak hujan atau saat bertepatan dengan musim hujan di Indonesia.
Monsoon merupakan suatu pola sirkulasi angin yang berhembus secara periodik (minimal 3 bulan) dan pada periode yang lain polanya akan berlawanan. Oleh masyarakat awam monsoon sering dikaitan dengan curah hujan. Tapi tidak selalu setiap ada monsoon selalu banyak hujan, hal ini tergantung kekuatan dari monsoon itu sendiri.
Seperti diketahui bahwa pergerakan matahari hanya menuju utara atau selatan dengan lintasan terpanjang hanya pada posisi 23.5 derajat LU atau LS. Itu artinya ketika matahari berada pada lintang paling utara maka matahari akan bergerak kembali menuju selatan dengan melintasi ekuator, begitu juga ketika matahari pada posisi paling selatan maka selanjutnya matahari akan bergerak menuju utara. Jika matahari berada di utara khatulistiwa, maka belahan bumi utara mempunyai suhu udara yang panas dengan tekanan udara cenderung rendah, maka pergerakan angin dari belahan bumi utara (daratan Asia) menuju belahan bumi selatan (daratan Australia), biasanya berasal dari arah barat menuju timur. Kondisi inilah yang sering dikatakan orang Angin Barat.

Pengaruh Angin Barat
Kuat atau tidaknya angin barat ditentukan oleh beberapa pemicunya yaitu: ada atau tidaknya badai tropis di perairan Australia bagian utara atau di sebelah selatan Nusa Tengara, Besar tekanan udara di daratan Asia ada atau tidaknya faktor penghambat di dekat garis ekuator Intensitas angin barat cukup kuat jika ada badai tropis di sekitar perairan Australia dan tekanan udara di daratan Asia cukup tinggi (biasanya lebih dari 1020 hpa) serta angin yang membawa masa udara dingin untuk pembentukan awan hujan tidak terhambat di sekitar daerah ekuator. Sehingga peluang hujan di Indonesia bagian selatan cenderung banyak hujan lebat. Sebaliknya jika ada yang menghambat maka hujan lebat agak berkurang. Pengaruh yang dirasakan dari kuatnya angin barat adalah hujan lebat yang terjadi berhari-hari (biasanya 2 - 3 hari). Di samping itu cuaca biasanya akan tertutup awan gelap. Akibat lainnya adalah angin yang kencang dengan kekuatan lebih 20 knot (36 km/jam)
Hujan Lebat dan Karakteristiknya
Hujan adalah tetesan air yang jatuh dari lapisan atmosfer baik yang sampai ke bumi maupun tidak. Banyaknya air hujan yang terkumpul dalam suatu tempat yang tidak menguap, meresap dan mengalir disebut “Curah Hujan” dan dinyatakan dalam satuan “milimeter”.
Curah hujan 1 milimeter artinya dalam luasan 1 meter persegi tertampung air hujan setinggi 1 milimeter atau 1 liter.
Untuk intensitas hujan per jam, mengacu pada standar Internasional (WMO) adalah sebagai berikut :
Sangat Ringan yaitu kurang 0.1 mm
Ringan yaitu 0.1 – 5.0 mm
Sedang / Normal yaitu 5.0 – 10 mm
Lebat yaitu 10 – 20 mm
Sangat Lebat yaitu lebih 20 mm

Pola hujan di Indonesia ada 3 tipe, yaitu :
Tipe Equatorial adalah tipe hujan yang tidak begitu jelas antara perbedaan musim hujan dan kemaraunya (mempunyai 2 puncak hujan)
Tipe Monsoon/Musim adalah tipe hujan yang sangat jelas perbedaan antara musim hujan dan kemarau (berbentuk “V”) Jumlah curah hujan minimum terjadi pada bulan Juni, Juli atau Agustus)
Tipe Lokal adalah tipe hujan yang mempunyai 1 puncak hujan (kebalikan dari tipe Monsoon) Jumlah curah hujan maksimum terjadi pada bulan Juni, Juli atau Agustus
Memang sangat sulit membedakan kriteria hujan lebat yang menggunakan angka dengan hujan lebat berdasarkan kerapatan hujan. Tapi hal itu dapat dilihat dari butir air yang turun. Untuk hujan lebat butir airnya berukuran di atas 0.5 mm.
Hujan lebat yang terjadi di musim penghujan dengan di musim kemarau ataupun di musim pancaroba sangat berbeda-beda. hujan lebat yang turun pada musim penghujan biasanya lebih dari 2 jam, sedangkan hujan lebat yang turun pada musim kemarau biasanya kurang dari satu jam, sedangkan pada musim pancaroba biasanya berkisar antara 1- 2 jam, hujan lebat biasa diikuti dengan hujan gerimis,

Gambar 6: Hujan Gerimis, Hujan Agak Lebat, dan Hujan Lebat

Potensi Hujan Lebat dan Banjir
Hujan lebat akan terjadi jika syarat utama terpenuhi yaitu curah hujan > 400 mm/bulan, atau 50-100 mm/24 jam atau 10-20 mm/jam. Berikut ini adalah indikator awal hujan lebat.

Sedangkan cuaca ekstrem (curah hujan lebat dan sangat lebat) dapat terjadi dengan kriteria:


Hujan lebat biasanya terjadi bila:
terjadi di saat musim penghujan dengan durasi lebih dari 2 jam dan terjadi berhari-hari
terjadi di saat musim pancaroba dengan durasi kurang lebih 1 jam
Akibat pengaruh tidak langsung dari Badai Tropis
Kekuatan dari angin barat
Minimum Curah hujan terukur 20 mm/jam atau 50 mm/hari



Pembahasan

Dari tabel distribusi curah hujan dapat dilihat jumlah curah hujan yang sering terjadi yang yaitu < 5 mm kemudian 5 – 20 mm hal ini berarti curah hujan umumnya berkriteria ringan. Curah hujan dibawah 20 mm ini kurang berpotensi untuk terjadinya banjir oleh karena itu wajar bila banjir harus diwaspadai pada kriteria curah hujan yang lebat.
Dari tabel potensi curah hujan terhadap banjir dapat dikemukakan bahwa pada bulan Januari sebesar 1,7 hal ini berarti dapat terjadi banjir antara 1- 2 kali dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 8,48 % .

Pada bulan Pebruari potensi curah hujan terhadap banjir lebih besar dari pada bulan Januari yaitu 2,1 hal ini berarti dapat terjadi banjir lebih 2 kali dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 10,21 %.

Pada bulan Maret potensi curah hujan terhadap banjir yaitu 0,3 yang berarti lebih kecil dari pada bulan Pebruari atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 2,16 %.

Pada bulan April potensi curah hujan terhadap banjir sama seperti bulan Maret yaitu 0,3 atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 2,54 %

Pada bulan Mei potensi curah hujan terhadap banjir yaitu 0,05 atau lebih kecil dari bulan April atau kecil kemungkinan terjadinya dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 0,48 %

Pada bulan Juni potensi curah hujan terhadap banjir sama dengan bulan Mei yaitu 0,06 atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 0,86 %

Pada bulan Juli potensi curah hujan terhadap banjir lebih kecil dari pada bulan Juni yaitu 0,02 atau paling kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 0,34 %

Pada bulan Agustus potensi curah hujan terhadap banjir banjir lebih besar dari pada bulan Juli yaitu 0,05 atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 1,59 %

Pada bulan September potensi curah hujan terhadap banjir sama dengan bulan Agustus yaitu 0,1 atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 3,6 %

Pada bulan Oktober potensi curah hujan terhadap banjir lebih besar dari pada bulan September yaitu 0,15 atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 2,07 %

Pada bulan Nopember curah hujan terhadap potensi banjir lebih kecil dari pada bulan Oktober atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan persentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 0,86 %

Pada bulan Desember potensi curah hujan terhadap banjir lebih besar dari pada bulan Nopember yaitu 1,0 atau pada bulan Desember dapat terjadi banjir 1 kali dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 7,04 %


Kesimpulan :
Curah hujan umumnya berkisar antara < 5 mm/hari dengan intensitas sangat ringan, curah hujan ini berkisar 35 – 55 persen, terbesar terjadi pada bulan Juli yaitu 55,39 % dan terendah bulan Pebruari yaitu 35,03 %,.disusul kemudian curah hujan ringan
yaitu curah hujan 5 – 20 yang berkisar antara 31 – 36 % sedangkan curah hujan lebat yaitu curah hujan lebih dari 50 mm berkisar 0,3 – 10,2 % terbesar pada bulan Pebruari yaitu 10,2 % dan terendah pada bulan Juli yaitu 0,3 %.
Dari curah hujan lebat ini dapat dilihat potensinya terhadap banjir yaitu perkalian persentase curah hujan lebat dengan hari hujan, dan didapatakan potensi hujan terbesar pa da bulan Pebruari dan terkecil pada bulan Juli .

Pengaruh Diklat dan Motivasi terhadap Kinerja


ABSTRAK


Judul tesis ”Analisis Pengaruh Diklat dan Motivasi terhadap Kinerja Pegawai di Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah II Ciputat” Oleh : Udin Nasikhudin

Responden yang diambil sesuai dengan teori Slovin sebanyak 51 orang dari jumlah pegawai seluruhnya sebanyak 106 orang. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh simultan diklat dan motivasi terhadap kinerja, serta menganalisis pengaruh parsial baik diklat maupun motivasi terhadap kinerja pegawai.
Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, dengan menganalisis dan menguji hubungan dan pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat digunakan model-model kausalitik melalui analisa korelasi dan regresi dengan bantuan SPSS 10.0
Sedangkan metodologi penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dan explanatory.
Dari hasil penelitian diperoleh hasil sebagai berikut :
1 Secara simultan pengaruh diklat dan motivasi dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap kinerja pegawai, berpengaruh kuat dan signifikan, dengan koefisien determinasi ( kontribusi ) sebesar 63.4 %. adapun sisanya sebesar 36.6 % diakibatkan oleh faktor lain.
2 Secara parsial pengaruh diklat sebagai variabel independen terhadap kinerja pegawai sebagai variabel dependen dapat berpengaruh cukup kuat, signifikan dan berprediksi positif, dengan koefisien determinasi sebesar 43.8 %.
3 Secara parsial pengaruh motivasi kerja sebagai variabel independen terhadap kinerja sebagai variabel dependen dapat berpengaruh cukup kuat, signifikan dan berprediksi positif, dengan koefisien determinasi sebesar 44.4 %.

JAKARTA SULIT TERBEBAS BANJIR


JAKARTA SULIT TERBEBAS BANJIR

Oleh : Udin Nasikhudin

Jakarta sebagai ibu kota negara yang merupakan pusatnya pusat yaitu pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat pendidikan, pusat industri, pusat pariwisata dan lain-lain. Kondisi yang demikian banyak menarik penduduk dari berbagai daerah.
Dengan banyaknya migran ke Jakarta maka kompleksitas pun terjadi dari masalah sosial sampai masalah fisik wilayah.
Contoh masalah yang komplek yaitu masalah penanggulangan banjir, Jakarta sebenarnya sejak jaman Belanda sudah pernah terkena banjir namun karena penduduknya belum banyak, masalah ini belum serius.
Jakarta sekarang padat dengan penduduk, pemerintah telah berusaha untuk menanggulangi banjir namun di pihak lain sebagian masyarakat belum sadar akan bahaya banjir, sehingga banyak daerah-daerah pinggir sungai dijadikan perumahan yang mempersempit sungai dan air menjadi sulit mengalir, begitu pula kesadaran sebagian masyarakat dalam membuang sampah, sering sungai menjadi sasaran yang paling enak karena sungai merupakan daerah yang tak bertuan.
Penanggulangan banjir yang selama ini dilakukan masih sulit dibayangkan dapat mengatasinya. Lebih dari 10 anak sungai mengalir ke Jakarta. Bila dilihat dari topografi, curah hujan, dan budaya masyarakat maka penanggulangan tersebut belum seimbang dan sampai kapan Jakarta terbebas dari Banjir susah untuk di jawab. Dari hasil pengkajian curah hujan di DKI Jakarta setiap bulan pernah terjadi hujan lebat atau lebih 50 mm per hari, hal ini mengidentifikasikan bahwa banjir akan selalu mengancam DKI Jakarta dengan kemungkinan terbesar bulan Pebruari menyusul Januari dan Desember.
Banjir bagi sebagian orang merupakan bencana yang menakutkan karena bencana ini dapat terjadi setiap saat dan dapat mengakibatkan kerugian jiwa, harta dan benda.
Kejadian banjir sulit untuk dicegah, namun dapat dikendalikan dan dikurangi dampak kerugian yang diakibatkannya. Karena datangnya relatif cepat, untuk mengurangi kerugian akibat bencana tersebut perlu dipersiapkan penanganan secara cepat, tepat dan terpadu.
Untuk melaksanakan tugas tersebut diperlukan manajemen banjir. Bahaya banjir’ merupakan satu fenomena atau kejadian yang mewujudkan ancaman atau bahaya kepada manusia.
Mungkin ada sebagian masyarakat yang dari lahir sampai meninggalnya memang bertempat tinggal di daerah banjir dan sudah pasrah akan keadaan demikian.
Sebenarnya yang selama ini banjir di permasalahakan oleh masyarakat disisi lain memberi manfaat meskipun tidak seimbang dengan kerugiannya. Sebagian anak-anak melihat Banjir merupakan sarana bermain Banjir juga membawa manfaat bagi tukang becak; tukang becak mendapat keuntungan karena kebanyakan warga yang terkena banjir lebih memilih menyelamatkan dengan menaik becak agar baju dan barang-barang bawaannya tidak basah.
Para pemancing dapat memancing ikan di sekitar banjir, yang biasanya ikan dari empang atau kolam banyak yang terbawa arus banjir sehingga orang dapat mancing ikan dimana saja di daerah yang terkena banjir.
Tukang dorong kendaraan; mereka mendapat upah dari mendorong kendaraan yang mogok di tengah banjir, dan perajin rakit atau perahu yang mereka buat dapat membantu warga untuk menyelamatkan barang-barang mereka, terkadang tim SAR membeli/ menyewa perahu mereka.