SEKILAS IBADAH HAJI

SEKILAS IBADAH HAJI

Ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Tak dapat disangkal bahwa pakaian dalam kenyataan dan berdasarkan al-Qur`an berfungsi sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya. Pembedaan tersebut dapat mengantar kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis pada pemakainya. Di Miqat Maka di tempat dimana ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan, hingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan. "Di Miqat ini ras dan suku harus dilepaskan semua pakaian yang di kenakan sehari-hari sebagai serigala (lambang kekejaman dan penindasan), tikus (lambang kelicikan), anjing (lambang tipu daya ), atau domba (lambang penghambaan ). harus ditinggalkan semua itu di Miqat dan berperanlah sebagai manusia yang sesungguhnya.Di Miqat dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan atau seharusnya dipengaruhi jiwa pakaian ini. Dan seharusnya ia merasakan kelemahan dan keterbatasan, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Yang disisi-Nya tiada perbedaan antara seseorang dengan yang lain, kecuali atas dasar pengabdian kepada-Nya.Dengan dikenakannya pakaian ihram, maka sejumlah larangan harus diindahkan oleh pelaku ibadah haji. Seperti jangan menyakiti binatang, jangan membunuh, jangan menumpahkan darah, jangan mencabut pepohonan. Karena manusia berfungsi memelihara makhluk-makhluk Allah itu, dan memberinya kesempatan seluas mungkin mencapai tujuan penciptaannya. Dilarang juga menggunakan wangi-wangian, bercumbu atau kawin, dan berhias supaya setiap haji menyadari bahwa manusia bukan hanya materi semata-mata bukan pula birahi. Hiasan yang dinilai Allah adalah hiasan rohani. Dilarang pula menggunting rambut, kuku, supaya masing-masing menyadari jati dirinya dan menghadap pada Allah sebagaimana apa adanya.Ka`bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana misalnya ada Hijr Ismail yang arti harfiahnya pangkuan Ismail. Di sanalah Ismail putra Ibrahim, pembangunan Ka`bah ini pernah berada dalan pangkuan Ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan budak, yang konon kuburannya pun di tempat itu, namun demikian budak wanita ini ditempatkan Allah di sana atau peninggalannya diabadikan Allah, untuk menjadi pelajaran bahwa Allah swt memberi kedudukan untuk seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tapi karena kedekatannya kepada Allah swt dan usahanya untuk menjadi hajar atau berhijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban Islami.Setelah selesai melakukan thawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia-manusia lain, serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam lingkungan Allah swt dilakukanlah sa`i. Di sini muncul lagi Hajar, budak wanita bersahaja yang diperistrikan Nabi Ibrahim itu, diperagakan pengalamannya mencari air untuk putranya. Keyakinan wanita ini akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah sedemikian kokoh, terbukti jauh sebelum peristiwa pencaharian ini, ketika ia bersedia ditinggal (Ibrahim) bersama anaknya di suatu lembah yang tandus, keyakinannya yang begitu dalam tak menjadikannya samasekali berpangku tangan menunggu turunnya hujan dari langit, tapi ia berusaha dan berusaha berkali-kali mondar-mandir demi mencari kehidupan. Hajar memulai usahanya dari bukit Shafa yang arti harfiahnya adalah "kesucian dan ketegaran" sebagai lambang bahwa mencapai kehidupan harus dengan usaha yang dimulai dengan kesucian dan ketegaran-- dan berakhir di Marwah yang berarti "ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati dan memaafkan orang lain" Makna yang lebih agung berkaitan dengan pengamalan kemanusiaan dalam mencari kehidupan duniawi melebihi makna-makna yang digambarkan tersebut, Kalau thawaf menggambarkan larutnya dan meleburnya manusia dalam hadirat Ilahi, atau dalam istilah kaum sufi al-fana` fi Allah maka sai` menggambarkan usaha manusia mencari hidup yang ini dilakukan begitu selesai thawaf yang melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan dan keterpaduan. Maka dengan thawaf disadarilah tujuan hidup manusia. Setengah kesadaran itu dimulai sa`i yang menggambarkan, tugas manusia adalah berupaya semaksimal mungkin. Hasil usaha pasti akan diperoleh baik melalui usahanya maupun melalui anugerah Tuhan, seperti yang dialami Hajar bersama putranya Ismail dengan ditemukannya air Zamzam itu.Di Arafah, padang yang luas lagi gersang itu seluruh jamaah wuquf ( berhenti ) sampai terbenam matahari. Di sanalah mereka seharusnya menemukan ma`rifat pengetahuan sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya, serta di sana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini, sebagaimana ia menyadari pula betapa besar dan agung Tuhan yang kepadaNya bersimpuh seluruh makhluk, sebagaimana diperagakan secara miniatur di padang tersebut. Kesadaran-kesadaran itulah yang mengantarkannya di padang `arafah untuk menjadi`arif atau sadar dan mengetahui.
Kearifan apabila telah menghias seseorang, maka menurut "Selalu gembira, senyum, betapa tidak senang hatinya telah gembira sejak ia mengenal-Nya,di mana-mana ia melihat satu saja, melihat Yang Maha Suci itu, semua makhluk di pandangnya sama (karena memang semua sama,sama membutuhkan-Nya). Ia tak akan melihat kelemahan atau mencari-cari kesalahan orang, ia tidak akan cepat tersinggung walau melihat yang mungkar sekalipun karena jiwanya selalu diliputi rahmat dan kasih sayang.Dari Arafah para jamaah ke Mudzdalifah mengumpulkan senjata menghadapi musuh utama yaitu setan, kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina dan di sanalah para Jamaah haji melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka masing-masing terhadap musuh yang selama ini menjadi penyebab segala kegetiran yang dialaminya.
Ibadah haji merupakan kumpulan simbol-simbol yang sangat indah, apabila dihayati dan diamalkan secara baik dan benar, maka pasti akan mengantarkan setiap pelakunya dalam lingkungan kemanusiaan yang benar sebagaimana dikehendaki Allah, Amien

DISTRIBUSI SAMPLING

1. Pendahuluan

Bidang Inferensia Statistik membahas generalisasi/penarikan kesimpulan dan prediksi/ peramalan. Generalisasi dan prediksi tersebut melibatkan sampel/contoh, sangat jarang menyangkut populasi.
- Sensus = pendataan setiap anggota populasi
- Sampling = pendataan sebagian anggota populasi = penarikan contoh = pengambilan sampel
- Pekerjaan yang melibatkan populasi tidak digunakan, karena:
1. mahal dari segi biaya dan waktu yang panjang
2. populasi akan menjadi rusak atau habis jika disensus
misal : dari populasi donat ingin diketahui rasanya, jika semua
donat dimakan, dan donat tidak tersisa, tidak ada yang dijual?
Sampel yang baik diperoleh dengan memperhatikan hal-hal berikut :
1. keacakannya (randomness)
2. ukuran
3. teknik penarikan sampel (sampling) yang sesuai dengan kondisi atau sifat populasi

Sampel Acak = Contoh Random dipilih dari populasi di mana setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama terpilih menjadi anggota ruang sampel.

• Beberapa Teknik Penarikan Sampel :
a. Penarikan Sampel Acak Sederhana (Simple Randomized Sampling)
Pengacakan dapat dilakukan dengan : undian, tabel bilangan acak, program komputer.
b. Penarikan Sampel Sistematik (Systematic Sampling)
Tetapkan interval lalu pilih secara acak anggota pertama sampel
Contoh : Ditetapkan interval = 20
Secara acak terpilih : Anggota populasi ke-7 sebagai anggota ke-1 dalam sampel maka :
Anggota populasi ke-27 menjadi anggota ke-2 dalam sampel
Anggota populasi ke-47 menjadi anggota ke-3 dalam sampel, dst.
c. Penarikan Sampel Acak Berlapis (Stratified Random Sampling)
Populasi terdiri dari beberapa kelas/kelompok. Dari setiap kelas diambil sampel secara acak.
Perhatikan !!!!
Antar Kelas bersifat (cenderung) berbeda nyata (heterogen). Anggota dalam suatu kelas akan (cenderung) sama (homogen).
Contoh :
Dari 1500 penumpang KA (setiap kelas memiliki ukuran yang sama) akan diambil 150 orang sebagai sampel, dilakukan pendataan tentang tingkat kepuasan, maka sampel acak dapat diambil dari :
Kelas Eksekutif : 50 orang
Kelas Bisnis : 50 orang
Kelas Ekonomi : 50 orang

d. Penarikan Sampel Gerombol/Kelompok (Cluster Sampling)
Populasi juga terdiri dari beberapa kelas/kelompok
Sampel yang diambil berupa kelompok bukan individu anggota
Perhatikan !!!!
Antar Kelas bersifat (cenderung) sama (homogen). Anggota dalam suatu kelas akan (cenderung) berbeda (heterogen).

Contoh :
Terdapat 40 kelas untuk tingkat II Jurusan Ekonomi-GD, setiap kelas terdiri dari 100 orang. Populasi mahasiswa kelas 2, Ekonomi-UGD = 40 - 100 = 4000.
Jika suatu penelitian dilakukan pada populasi tersebut dan sampel yang diperlukan = 600 orang, dilakukan pendataan mengenai lama waktu belajar per hari maka sampel dapat diambil dari 6 kelas.... Dari 40 kelas, ambil secara acak 6 kelas.

e. Penarikan Sampel Area (Area Sampling)
Prinsipnya sama dengan Cluster Sampling.
Pengelompokan ditentukan oleh letak geografis atau administratif.
Contoh : Pengambilan sampel di daerah JAWA BARAT, dapat dilakukan dengan memilih secara acak KOTAMADYA tempat pengambilan sampel, misalnya terpilih, Kodya Bogor, Sukabumi dan Bandung,

Sampel acak menjadi dasar penarikan sampel lain. Selanjutnya, pembahasan akan menyangkut Penarikan Sampel Acak.

• Penarikan Sampel Acak dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
a. Penarikan sampel tanpa pemulihan/tanpa pengembalian : setelah didata, anggota sampel tidak dikembalikan ke dalam ruang sampel
b. Penarikan sampel dengan pemulihan : bila setelah didata, anggota sampel dikembalikan ke dalam ruang sampel.

• Berdasarkan Ukurannya, maka sampel dibedakan menjadi :
a. Sampel Besar jika ukuran sampel (n) > 30
b. Sampel Kecil jika ukuran sampel (n) < 30


Distribusi Penarikan Sampel = Distribusi Sampling
• Jumlah Sampel Acak yang dapat ditarik dari suatu populasi adalah sangat banyak.
• Nilai setiap Statistik Sampel akan bervariasi/beragam antar sampel.
• Suatu statistik dapat dianggap sebagai peubah acak yang besarnya sangat tergantung dari sampel yang kita ambil.
• Karena statistik sampel adalah peubah acak maka ia mempunyai distribusi yang kita sebut sebagai : Distribusi peluang statistik sampel = Distribusi Sampling = Distribusi Penarikan Sampel

Video

Haji

Perjalanan Ibadah Haji 19 Nopember - 29 Desember 2009

POTENSI CURAH HUJAN HARIAN TERHADAP BANJIR DI TANJUNG PRIOK DAN SEKITARNYA


POTENSI CURAH HUJAN HARIAN TERHADAP BANJIR DI TANJUNG PRIOK DAN SEKITARNYA
Oleh : Drs. Udin Nasikhudin, MM

PENDAHULUAN
Bencana Alam seperti peristiwa banjir dan longsor selalu dihubungkan dengan curah hujan yang tinggi. Sebenarnya banjir dan longsor itu terjadi tidak hanya karena faktor curah hujan yang tinggi melainkan masih banyak faktor lainnya seperti faktor daya lingkungan. Sedangkan yang menyebabkan hujan sangat lebat salah satu faktornya adalah akibat intensitas monsoon yang kuat
Indonesia mempunyai 2 musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau, biasanya datangnya musim hujan dihubungkan dengan akitivitas angin barat atau istilah ilmiahnya adalah Monsoon.
Di Indonesia dikenal dengan 2 macam monsoon, yaitu Monsoon Asia dan Monsoon Australia. Monsoon Asia berhubungan dengan musim hujan sedangkan Monsoon Australia berhubungan dengan musim kemarau.

Untuk mengetahui apa itu monsoon, perlu terlebih dahulu memahami konsep terjadi angin.
Angin adalah udara yang bergerak, angin barat adalah angin dari arah barat, sedangkan angin timur adalah angin dari arah timur. Tidak selamanya angin barat ini selalu mendatangkan hujan lebat berhari-hari. Meski tidak sepopuler badai tapi sebagian petani sudah mengenali angin barat ini, karena berkaitan pola tanam padi.

Angin Monsoon
Monsoon berkaitan dengan musim. Monsoon Dingin Asia berhubungan dengan angin baratan, yaitu angin yang berasal dari daratan Asia menuju wilayah Indonesia. Monsoon Dingin Asia membawa uap air lebih banyak dari biasanya, sehingga sebagian wilayah Indonesia bagian selatan sering banyak hujan atau saat bertepatan dengan musim hujan di Indonesia.
Monsoon merupakan suatu pola sirkulasi angin yang berhembus secara periodik (minimal 3 bulan) dan pada periode yang lain polanya akan berlawanan. Oleh masyarakat awam monsoon sering dikaitan dengan curah hujan. Tapi tidak selalu setiap ada monsoon selalu banyak hujan, hal ini tergantung kekuatan dari monsoon itu sendiri.
Seperti diketahui bahwa pergerakan matahari hanya menuju utara atau selatan dengan lintasan terpanjang hanya pada posisi 23.5 derajat LU atau LS. Itu artinya ketika matahari berada pada lintang paling utara maka matahari akan bergerak kembali menuju selatan dengan melintasi ekuator, begitu juga ketika matahari pada posisi paling selatan maka selanjutnya matahari akan bergerak menuju utara. Jika matahari berada di utara khatulistiwa, maka belahan bumi utara mempunyai suhu udara yang panas dengan tekanan udara cenderung rendah, maka pergerakan angin dari belahan bumi utara (daratan Asia) menuju belahan bumi selatan (daratan Australia), biasanya berasal dari arah barat menuju timur. Kondisi inilah yang sering dikatakan orang Angin Barat.

Pengaruh Angin Barat
Kuat atau tidaknya angin barat ditentukan oleh beberapa pemicunya yaitu: ada atau tidaknya badai tropis di perairan Australia bagian utara atau di sebelah selatan Nusa Tengara, Besar tekanan udara di daratan Asia ada atau tidaknya faktor penghambat di dekat garis ekuator Intensitas angin barat cukup kuat jika ada badai tropis di sekitar perairan Australia dan tekanan udara di daratan Asia cukup tinggi (biasanya lebih dari 1020 hpa) serta angin yang membawa masa udara dingin untuk pembentukan awan hujan tidak terhambat di sekitar daerah ekuator. Sehingga peluang hujan di Indonesia bagian selatan cenderung banyak hujan lebat. Sebaliknya jika ada yang menghambat maka hujan lebat agak berkurang. Pengaruh yang dirasakan dari kuatnya angin barat adalah hujan lebat yang terjadi berhari-hari (biasanya 2 - 3 hari). Di samping itu cuaca biasanya akan tertutup awan gelap. Akibat lainnya adalah angin yang kencang dengan kekuatan lebih 20 knot (36 km/jam)
Hujan Lebat dan Karakteristiknya
Hujan adalah tetesan air yang jatuh dari lapisan atmosfer baik yang sampai ke bumi maupun tidak. Banyaknya air hujan yang terkumpul dalam suatu tempat yang tidak menguap, meresap dan mengalir disebut “Curah Hujan” dan dinyatakan dalam satuan “milimeter”.
Curah hujan 1 milimeter artinya dalam luasan 1 meter persegi tertampung air hujan setinggi 1 milimeter atau 1 liter.
Untuk intensitas hujan per jam, mengacu pada standar Internasional (WMO) adalah sebagai berikut :
Sangat Ringan yaitu kurang 0.1 mm
Ringan yaitu 0.1 – 5.0 mm
Sedang / Normal yaitu 5.0 – 10 mm
Lebat yaitu 10 – 20 mm
Sangat Lebat yaitu lebih 20 mm

Pola hujan di Indonesia ada 3 tipe, yaitu :
Tipe Equatorial adalah tipe hujan yang tidak begitu jelas antara perbedaan musim hujan dan kemaraunya (mempunyai 2 puncak hujan)
Tipe Monsoon/Musim adalah tipe hujan yang sangat jelas perbedaan antara musim hujan dan kemarau (berbentuk “V”) Jumlah curah hujan minimum terjadi pada bulan Juni, Juli atau Agustus)
Tipe Lokal adalah tipe hujan yang mempunyai 1 puncak hujan (kebalikan dari tipe Monsoon) Jumlah curah hujan maksimum terjadi pada bulan Juni, Juli atau Agustus
Memang sangat sulit membedakan kriteria hujan lebat yang menggunakan angka dengan hujan lebat berdasarkan kerapatan hujan. Tapi hal itu dapat dilihat dari butir air yang turun. Untuk hujan lebat butir airnya berukuran di atas 0.5 mm.
Hujan lebat yang terjadi di musim penghujan dengan di musim kemarau ataupun di musim pancaroba sangat berbeda-beda. hujan lebat yang turun pada musim penghujan biasanya lebih dari 2 jam, sedangkan hujan lebat yang turun pada musim kemarau biasanya kurang dari satu jam, sedangkan pada musim pancaroba biasanya berkisar antara 1- 2 jam, hujan lebat biasa diikuti dengan hujan gerimis,

Gambar 6: Hujan Gerimis, Hujan Agak Lebat, dan Hujan Lebat

Potensi Hujan Lebat dan Banjir
Hujan lebat akan terjadi jika syarat utama terpenuhi yaitu curah hujan > 400 mm/bulan, atau 50-100 mm/24 jam atau 10-20 mm/jam. Berikut ini adalah indikator awal hujan lebat.

Sedangkan cuaca ekstrem (curah hujan lebat dan sangat lebat) dapat terjadi dengan kriteria:


Hujan lebat biasanya terjadi bila:
terjadi di saat musim penghujan dengan durasi lebih dari 2 jam dan terjadi berhari-hari
terjadi di saat musim pancaroba dengan durasi kurang lebih 1 jam
Akibat pengaruh tidak langsung dari Badai Tropis
Kekuatan dari angin barat
Minimum Curah hujan terukur 20 mm/jam atau 50 mm/hari



Pembahasan

Dari tabel distribusi curah hujan dapat dilihat jumlah curah hujan yang sering terjadi yang yaitu < 5 mm kemudian 5 – 20 mm hal ini berarti curah hujan umumnya berkriteria ringan. Curah hujan dibawah 20 mm ini kurang berpotensi untuk terjadinya banjir oleh karena itu wajar bila banjir harus diwaspadai pada kriteria curah hujan yang lebat.
Dari tabel potensi curah hujan terhadap banjir dapat dikemukakan bahwa pada bulan Januari sebesar 1,7 hal ini berarti dapat terjadi banjir antara 1- 2 kali dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 8,48 % .

Pada bulan Pebruari potensi curah hujan terhadap banjir lebih besar dari pada bulan Januari yaitu 2,1 hal ini berarti dapat terjadi banjir lebih 2 kali dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 10,21 %.

Pada bulan Maret potensi curah hujan terhadap banjir yaitu 0,3 yang berarti lebih kecil dari pada bulan Pebruari atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 2,16 %.

Pada bulan April potensi curah hujan terhadap banjir sama seperti bulan Maret yaitu 0,3 atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 2,54 %

Pada bulan Mei potensi curah hujan terhadap banjir yaitu 0,05 atau lebih kecil dari bulan April atau kecil kemungkinan terjadinya dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 0,48 %

Pada bulan Juni potensi curah hujan terhadap banjir sama dengan bulan Mei yaitu 0,06 atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 0,86 %

Pada bulan Juli potensi curah hujan terhadap banjir lebih kecil dari pada bulan Juni yaitu 0,02 atau paling kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 0,34 %

Pada bulan Agustus potensi curah hujan terhadap banjir banjir lebih besar dari pada bulan Juli yaitu 0,05 atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 1,59 %

Pada bulan September potensi curah hujan terhadap banjir sama dengan bulan Agustus yaitu 0,1 atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 3,6 %

Pada bulan Oktober potensi curah hujan terhadap banjir lebih besar dari pada bulan September yaitu 0,15 atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 2,07 %

Pada bulan Nopember curah hujan terhadap potensi banjir lebih kecil dari pada bulan Oktober atau kecil kemungkinan terjadinya banjir dengan persentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 0,86 %

Pada bulan Desember potensi curah hujan terhadap banjir lebih besar dari pada bulan Nopember yaitu 1,0 atau pada bulan Desember dapat terjadi banjir 1 kali dengan presentase hujan lebih 50 mm yang merupakan hujan lebat sebesar 7,04 %


Kesimpulan :
Curah hujan umumnya berkisar antara < 5 mm/hari dengan intensitas sangat ringan, curah hujan ini berkisar 35 – 55 persen, terbesar terjadi pada bulan Juli yaitu 55,39 % dan terendah bulan Pebruari yaitu 35,03 %,.disusul kemudian curah hujan ringan
yaitu curah hujan 5 – 20 yang berkisar antara 31 – 36 % sedangkan curah hujan lebat yaitu curah hujan lebih dari 50 mm berkisar 0,3 – 10,2 % terbesar pada bulan Pebruari yaitu 10,2 % dan terendah pada bulan Juli yaitu 0,3 %.
Dari curah hujan lebat ini dapat dilihat potensinya terhadap banjir yaitu perkalian persentase curah hujan lebat dengan hari hujan, dan didapatakan potensi hujan terbesar pa da bulan Pebruari dan terkecil pada bulan Juli .

Pengaruh Diklat dan Motivasi terhadap Kinerja


ABSTRAK


Judul tesis ”Analisis Pengaruh Diklat dan Motivasi terhadap Kinerja Pegawai di Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah II Ciputat” Oleh : Udin Nasikhudin

Responden yang diambil sesuai dengan teori Slovin sebanyak 51 orang dari jumlah pegawai seluruhnya sebanyak 106 orang. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh simultan diklat dan motivasi terhadap kinerja, serta menganalisis pengaruh parsial baik diklat maupun motivasi terhadap kinerja pegawai.
Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, dengan menganalisis dan menguji hubungan dan pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat digunakan model-model kausalitik melalui analisa korelasi dan regresi dengan bantuan SPSS 10.0
Sedangkan metodologi penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dan explanatory.
Dari hasil penelitian diperoleh hasil sebagai berikut :
1 Secara simultan pengaruh diklat dan motivasi dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap kinerja pegawai, berpengaruh kuat dan signifikan, dengan koefisien determinasi ( kontribusi ) sebesar 63.4 %. adapun sisanya sebesar 36.6 % diakibatkan oleh faktor lain.
2 Secara parsial pengaruh diklat sebagai variabel independen terhadap kinerja pegawai sebagai variabel dependen dapat berpengaruh cukup kuat, signifikan dan berprediksi positif, dengan koefisien determinasi sebesar 43.8 %.
3 Secara parsial pengaruh motivasi kerja sebagai variabel independen terhadap kinerja sebagai variabel dependen dapat berpengaruh cukup kuat, signifikan dan berprediksi positif, dengan koefisien determinasi sebesar 44.4 %.